Direktur HATM, Rita mengungkapkan, peningkatan liabilitas tersebut terutama dipengaruhi oleh kenaikan utang jangka panjang terkait perolehan fasilitas pinjaman dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Perlu diketahui, fasilitas pinjaman tersebut sebesar Rp147,5 miliar.
“Terjadi lonjakan (liabilitas) di kuartal pertama itu, karena kami ada pinjaman dari BCA untuk mendukung pembelian armada kapal,” ujar Rita.
Selain itu, kenaikan nilai kewajiban HATM per 31 Maret 2023 tersebut juga dipengaruhi oleh peningkatan utang usaha sebesar Rp17,4 miliar dan peningkatan beban yang masih harus dibayar sebesar Rp1,8 miliar.















