“Hasto ditangkep, sekjen ditangkep itu kan dia belum pernah mengalami itu, jadi respon reaktif dia ya (penundaan) retret,” jelas Hensa.
Penangkapan ini, menurutnya, menjadi pukulan psikologis dan politis bagi PDI-P, mengingat Hasto merupakan salah satu figur kunci dalam struktur partai.
Namun, di balik respons reaktif tersebut, Hensa melihat adanya niat tulus dari Megawati untuk tetap membina hubungan yang konstruktif dengan Presiden Prabowo Subianto.
Pesan salam yang disampaikan melalui Puan Maharani, menurut Hensa, menjadi sinyal bahwa Megawati tidak ingin memperkeruh suasana politik meski ada ketegangan sebelumnya.
“Aslinya kan kelihatannya dia ingin tetap membina komunikasi dan hubungan yang baik antara dirinya dengan Prabowo,” ujarnya.
Hensa menyoroti bahwa hubungan baik antara Megawati sebagai pemimpin partai pemenang legislatif dan Prabowo sebagai pemenang Pilpres 2024 merupakan hal yang positif bagi stabilitas politik nasional.
“Nah ini kan bagus juga, sebagai pemenang pilpres hubungannya baik dengan pemenang legislatif. Dalam artian, saling menghormati posisi masing-masing, jadi bagus lah sikap Megawati,” pungkas Hensa















