Nama Angke di Jakarta Barat menjadi saksi bisu akan kiprah beliau. Di kawasan inilah, nilai-nilai perjuangan, religiusitas, dan kepemimpinan Tubagus Angke terus diwariskan.
Kini, dengan bergabungnya H. Hercules sebagai Dewan Kehormatan di majelis taqlim tersebut, semangat dan warisan luhur itu mendapatkan penerus baru. Hal ini menunjukkan bahwa Jakarta modern tetap menjunjung tinggi sejarah dan menghormati jejak para leluhur.
Pengakuan Sosial dan Spiritualitas
Hercules bukan sekadar figur publik. Ia telah melewati berbagai fase kehidupan—dari masa-masa sulit hingga kini menjadi pemimpin ormas besar dan tokoh yang banyak berbuat untuk masyarakat bawah.
Penobatan ini bukan semata penghargaan simbolik, tapi bentuk pengakuan moral dan spiritual: bahwa seseorang, betapa pun keras latar belakangnya, dapat menjadi pelanjut nilai luhur bila ia memilih jalan yang benar.
Acara penobatan berlangsung penuh khidmat. Doa-doa mengalun, simbol-simbol tradisi seperti sorban putih, peci, dan batik dikenakan para tokoh agama dan masyarakat. Semua berpadu dalam suasana penuh makna, menandai hubungan erat antara nilai sejarah, spiritualitas, dan tokoh kontemporer.
Menjaga Warisan Leluhur di Era Modern
Dalam era yang serba cepat dan modern ini, penobatan H. Hercules menjadi Abah Maung adalah pesan yang kuat. Bahwa kearifan lokal, sejarah, dan spiritualitas tetap relevan, bahkan penting, untuk menjadi fondasi dalam membangun masa depan.















