Sebagai Dewan Kehormatan, tanggung jawab Hercules tak berhenti pada seremoni. Ia diharapkan turut menjaga kehormatan situs makam kramat, membimbing generasi muda dalam memahami akar budaya Jakarta, serta menjembatani nilai-nilai lama dengan semangat zaman kini.
Dalam pernyataannya setelah acara, H. Hercules menyampaikan rasa haru dan kesiapannya menjalankan amanah:
“Saya merasa sangat terhormat dan tersentuh. Ini bukan soal gelar, tapi soal tanggung jawab. Saya siap menjaga nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur kita, terutama Ki Tubagus Angke. Jakarta bukan hanya milik masa kini, tapi juga milik masa lalu dan masa depan,” ungkap Hercules.
Pernyataan itu mencerminkan perubahan mendalam dalam perjalanan spiritual H. Hercules. Bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan di jalan sosial dan politik, tetapi juga dalam menjaga akar nilai spiritualitas yang menjadi kekuatan sebuah bangsa.
Gelar Abah Maung yang kini disandang H. Hercules Rozario Marshall bukanlah semata kehormatan, tapi cerminan dari nilai tanggung jawab lintas zaman. Ia menjadi jembatan antara jejak luhur sejarah Jakarta dengan tantangan masyarakat modern.
Sosok keras itu kini juga menjadi pelindung spiritual, memperkuat pesan bahwa masa depan bangsa akan kuat bila akarnya tak tercerabut dari sejarah.















