Salut dengan pendekatannya kepada anak buah. “Your Excellency, please introduce our best reporter in TEMPO,” begitu kata Pak FJ menyanjung anak buahnya di hadapan para kenalannya. B
iasanya kenalannya adalah orang-orang asing.
HYK juga begitu. Sama persis dengan FJ.
Menyanjung reporter di depan narasumber. Bahkan untuk beberapa anak, dia bahkan tertarik mencari tahu siapa ayah ibu dan saudara-saudaranya.
Termasuk saat Mawar Kusuma—sekarang wartawan Harian Kompas—menukil sebuah ayat Perjanjian Baru di tulisannya.
Tambahan dari HYK adalah, sudah berapa ratus tahun usia ayat itu ketika diturunkan.
Selain pujian, HYK juga bisa tak segan memanggil reporter kembali ke kantor untuk menulis ulang laporannya atau bertanya lagi kepadanya tentang apa yang diliputnya.
Bahkan tak jarang saat si reporter sedang berkencan nonton di bioskop Megaria—sekarang Metropole.
Bioskop di ujung jalan Proklamasi itu memang sering jadi tempat melepas penat atau mencari lead tulisan.
Bahkan berkencan sebentar. Lalu balik lagi ke kantor untuk menuntaskan tulisan memenuhi tenggat atau deadline.
Tulisan saya tentang kedatangan Barack Obama ke Indonesia jadi ciamik karena polesannya.
Waktu itu sebagai wartawan di rubrik Luar Negeri, kedatangan Obama ke Jakarta jadi sampul cerita utama Majalah TEMPO.













