Namun, penelusuran di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) menemukan fakta bahwa pendaftaran perjanjian lisensi resmi antara HSERF dan YPPBA maupun PT HighScope baru 2024 sebagaimana diwajibkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2018. dan perjanjian ini berakhir di Desember 2026.
“Ada indikasi penggunaan nama PT ‘HighScope Indonesia dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuan pemilik merek di AS,” ujarnya.
YBTA juga menyoroti bahwa HSERF di AS hanya menyelenggarakan pendidikan untuk jenjang anak usia dini (TK).
Sementara jenjang SD, SMP, dan SMA yang menggunakan nama HighScope di Indonesia bukan bagian dari sistem resmi HSERF.
“Ini penting diketahui orang tua murid. Selama ini, kami menahan diri karena tidak mau mengganggu proses belajar mengajar di sana,” papar Chandra.
Fokus pada Kualitas Pendidikan
Saat ini, Sekolah HighScope Rancamaya di bawah pengelolaan YBTA hanya menyelenggarakan TK dan SD yang telah mengantongi akreditasi A.
YBTA menegaskan komitmennya menjaga mutu pendidikan sembari menunggu kepastian hukum terkait lisensi dan kurikulum internasional.
Menariknya, pada 2 Mei 2024, Presiden HSERF Alejandra Baraza dilaporkan mengirim surat resmi yang meminta YPPBA mengembalikan pengelolaan sekolah kepada YBTA. Kesepakatan sempat dicapai pada 6 Mei 2024, namun hingga kini YPPBA belum menjalankannya.












