Sejalan dengan itu, Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menjelaskan bahwa program co-firing menjadi salah satu strategi utama dalam mencapai target enhanced Nationally Determined Contribution (eNDC) 2030 sektor energi.
“Pemerintah telah menetapkan target eNDC 2030 untuk sektor energi, di mana co-firing substitusi sebagian batubara dengan biomassa di PLTU menjadi salah satu program pengurangan emisi GRK. Target nasionalnya adalah pemanfaatan 9 juta ton biomassa pada tahun 2030,” ujarnya.
PLTU Lontar yang berlokasi di bawah Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Banten 3 menjadi salah satu contoh nyata implementasi co-firing.
Senior Manager UBP Banten 3, Ria Indrawan, memaparkan bahwa unit ini secara teknis mampu menyerap hingga 5% biomassa dalam proses co-firing
Setiap harinya kami dapat menampung hingga 7.000 ton biomassa untuk co-firing. Ini membuktikan kesiapan teknologi dan operasional kami dalam mendukung program energi hijau.
Ketua Satgas Pangan BPP HIPMI, M. Hadi Nainggolan, yang turut hadir dalam kunjungan ini, menekankan bahwa keberhasilan co-firing tak hanya bergantung pada kesiapan PLTU, tetapi juga pada ekosistem pasokan biomassa yang terintegrasi.
“Kunci keberhasilan bisnis biomassa adalah membangun ekosistem yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Dengan menggandeng pelaku industri sektor biomassa, artinya kita bisa mengoptimalkan pemenuhan biomassa untuk pasokan ke PLTU,” ujarnya.















