Seperti diketahui, untuk saat ini seluruh warga yang terkena dampak saat ini sudah diungsikan beberapa tempat, yakni Markas Korem 06, apotek Wira Prima, Rumah Sakit Guntur dan posko Sekretaris Daerah.
Menurut BNPB, jumlah pengungsi diperkirakan akan terus bertambah meengingat banjir bandang tersebut memiliki skala yang besar.
Jafar menduga dahsyatnya banjir yang menerjang kawasan Garut-Sumedang akibat dari rusaknya hulu Sungai Cimanuk serta Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk yang tak mampu lagi menahan debit air hujan semalam.
“Buruknya kondisi aliran hulu sungai tersebut sudah terjadi berpuluh-puluh tahun. Sehingga jika di kawasan tersebut diguyur hujan lebat maka akan ada banjir dan longsor, itu informasi yang saya terima,” terang Jafar.
Mengutip data dari Ketua BNPB, kerusakan hulu Sungai Cimanuk sudah terjadi cukup lama semenjak tahun 1980. Bahkan sempat dinyatakan sebagai daerah aliran sungai kritis sehingga jika terjadi hujan akan menimbulkan banjir dan longsor.
“Jika dibandingkan dengan sungai yang ada di Pulau Jawa, menurut BNPB ternyata DAS Cimanuk ada diurutan pertama yakni memiliki koefisien rezim sungai (KRS) paling buruk. Ini bisa dilihat dari indikator KRS perbandingan debit max dengan debit min. Jika ada di titik 40 KRS dikategorikan baik, kategori sedang ada dititik 40 hingga 80 KRS, dan kategori buruk lebih dari 80 KRS,” katanya.















