Sementara itu, untuk kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga minyak mentah juga dipengaruhi, antara lain: Pertama, pertumbuhan permintaan minyak tahunan India pada April 2016 naik sebesar 0,4 juta barel per hari menjadi 4,5 juta barel per hari dari 4,1 juta barel per hari pada bulan April 2015. Proyeksi pertumbuhan tahunan India pada 2016 sebesar 0,4 juta barel per hari dan merupakan pertumbuhan permintaan minyak tertinggi di dunia (Publikasi IEA Juni 2016). Kedua, produksi minyak Cina pada bulan April 2016 kembali turun 55 ribu barel per hari dibandingkan bulan Maret 2016 menjadi 4,04 juta barel per hari, melanjutkan penurunan sejak akhir tahun 2015 (Publikasi IEA Juni 2016).
Menurut Tim Harga Minyak Indonesia, ICP SLC dan ICP rata-rata Minyak Mentah Indonesia tidak sejalan dengan membaiknya harga minyak mentah dunia, hal ini mengingat di bulan Juni 2016 terdapat koreksi harga minyak mentah SLC di pasar. ICP SLC pada bulan Mei 2016 meningkat cukup tajam dibandingkan bulan April 2016 sebesar US$12,21 per barel (disebabkan adanya penawaran yang tinggi terhadap Minyak Mentah SLC oleh trading company di pasar), sedangkan harga minyak mentah utama dunia lainnya (WTI, Brent, Basket OPEC) hanya meningkat di kisaran US$ 4,31-5.67 per barel. Selanjutnya koreksi harga pasar minyak mentah SLC, pada bulan Juni 2016 mengalami penurunan yang mengakibatkan ICP SLC turun US$ 3,82 per barel dibandingkan bulan Mei 2016. Di lain pihak, terdapat 17 ICP dari 52 ICP Minyak Mentah Indonesia yang mengacu pada ICP SLC, sehingga berdampak menurunnya rata-rata ICP Minyak Mentah Indonesia.














