Dalam konferensi pers di Stockholm, Philippe Aghion menjelaskan, “Pertumbuhan ekonomi sejati datang dari inovasi yang menggantikan sistem lama dengan cara baru yang lebih efisien. Namun, penghancuran kreatif hanya bisa berhasil jika ada kebijakan publik yang adil dan inklusif.”
Sementara Peter Howitt menambahkan, “Inovasi bukan sekadar teknologi, melainkan perubahan cara berpikir, cara memproduksi, dan cara mendistribusikan hasil kemajuan kepada seluruh lapisan masyarakat.”
Joel Mokyr menegaskan pentingnya institusi dan nilai-nilai budaya yang mendukung inovasi.
“Kita belajar dari sejarah bahwa kemajuan ekonomi tidak hanya bergantung pada mesin atau modal, tetapi juga pada sistem nilai yang memberi ruang bagi eksperimen dan perbaikan berkelanjutan,” katanya dikutip dari Financial Times (21/10/2025).
Teori yang diusung ketiga ekonom ini memiliki resonansi kuat dengan arah kebijakan pemerintahan Prabowo.
Idrus menilai, langkah membongkar sistem lama yang tertutup dan menggantinya dengan struktur baru yang memberi ruang partisipasi luas kepada rakyat adalah bentuk nyata dari “penghancuran kreatif” di ranah kebijakan publik.
“Kalau dalam bahasa ekonomi mereka disebut creative destruction, dalam bahasa politik dan ideologi bangsa kita itu penataan ulang nilai dan struktur agar berpihak kepada rakyat. Ini bukan destruksi, tapi rekonstruksi nilai,” ujar Idrus.














