Sedangkan nilai ekspor yang dicapai pada tahun yang sama adalah sebesar US$.19,62 miliar sebagai proses dari investasi yang ditanam sebesar Rp. 34,94 triliun, nilai bahan baku sebesar Rp 288,39 triliun, nilai produksi sebesar Rp 615,02 triliun, dan nilai tambah sebesar Rp 252,53 triliun. Hal ini berdampak pada meningkatnya ekonomi Nasional serta mengurangi kemiskinan.
Dirjen IKM Kemenperin Euis Saedah mengatakan pihaknya melakukan kajian lapangan yang memaparkan produk-produk spesifik dan khas di Indonesia antara lain makanan ringan dan minuman sari buah-sirup buah, kain tenun, produk batik, anyaman, gerabah dan keramik hias.
“Penyelenggaraan OVOP ini merupakan kali kedua setelah tahun 2013 lalu. Tahun ini penerima piagam sebanyak 110 IKM dab yang mendapat bintang lima sebanyak 2 IKM dan bintang empat sebanyak 23 IKM,” ulasnya.
Sementara itu, kata Euis, penerima Piagam Produk OVOP kategori bintang tiga sebanyak 51 IKM dan kategori bintang dua sebanyak 34 IKM. Peraih penghargaan OVOP bintang lima adalah Batik Winoto Sastro asal Yogyakarta yang konsisten mengembangkan batik tulis, menggunakan pewarna alam dan menyediakan kain serta pakaian batik untuk berbagai kalangan.
Penerima kategori bintang lima lainnya ialah Mawar Art Shop dari Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat yang memproduksi anyaman dari tanaman lokal, ketak. Perajin menganyamnya menjadi aneka produk seperti tas, tatakan gelas, asesoris peralatan rumah tangga, tempat tisu, hingga pelengkap interior ruang dan diekspor ke Jepang, Korsel, AS, Italia dan Belanda, selain ke pasar domestik.













