“Kami mendukung upaya yang telah dilakukan PLN untuk terus mencari peluang-peluang pemanfaatan biomassa, melakukan komitmen dengan pemasok biomassa besar seperti Perhutani, PTPN, dan Shang Hyang Seri, serta mendorong berkembangnya pasar biomassa skala menengah dan kecil. Kami berharap upaya-upaya ini terus dilanjutkan di setiap titik lokasi PLTU di Indonesia sehingga nantinya akan tercipta pasar demand & supply yang semakin besar dan keekonomian serta economics of scale yang semakin baik” jelas Sahid.
“Kita berharap program ini tidak hanya berhenti sampai disini, tapi juga harus berkelanjutan dengan persentase dari campuran biomassanya yang terus meningkat,” lanjutnya.
Sebagai informasi, PT PLN (Persero) telah berhasil melakukan implementasi cofiring atau pencampuran biomassa dengan batu bara pada 17 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) hingga Juni 2021.
Dari proyek cofiring tersebut, PLN mampu menghasilkan energi hijau dari ekivalen kapasitas pembangkit 189 Mega Watt (MW).
Dari total 17 PLTU yang menggunakan biomassa secara komersial tersebut, sekitar 12 PLTU tersebar di Jawa dan 5 lokasi di luar Jawa.
Pembangkit-pembangkit itu dikelola dua anak usaha PLN yaitu PT Indonesia Power dan PT Pembangkitan Jawa Bali.















