Negara berkembang terjebak dalam “middle trap” karena mereka tidak mengembangkan perekonomian secara mandiri, tidak memiliki dan mengembangkan industri basis atau industri strategis yang sarat teknologi tinggi, mengabaikan riset dan dunia pendidikan, membiarkan sumber daya alam dieksploitasi habis-habisan oleh investor dalam dan luar negeri.
Untuk itu pemerintah jangan mengedepankan paradigma yang berorientasi pertumbuhan.
Sebab resikonya besar sekali.
Pertama perekonomian tumbuh tetapi ditopang oleh sektor non riil dan konsumsi, bukan sektor produktif sehingga rentan terhadap krisis ekonomi.
Dia mengatakan, perekonomian tumbuh dan berhasil melewati klasifikasi “lower middle income” menjadi “upper middle income” tetapi pertumbuhan itu semu. Sebab pertumbuhan tidak dinikmati masyarakat banyak kecuali kelompok yang disebut “kelompok 1%”
“Perekonomian tumbuh tetapi pendapatan perkapita yang dicapai tidak menggambarkan terjadinya pemerataan pendapatan. Yang terjadi justru ketimpangan semakin lebar,” imbuh dia.
Lebih lanjut dia mengatakan perekonomian tumbuh dan pendapatan perkapita terus naik tetapi tidak mampu mencapai tingkat “high income” hingga akhirnya mandeg. Yang terjadi justru ekonomi semakin tidak mandiri di mana sektor-sektor perekonomian dikuasai dan dieksploitasi asing.














