Rinciannya, papar Arifin, sebanyak 5,5 GW dari PLTU akan dipensiunkan secara dini tanpa adanya penggantian dari pembangkit listrik EBT.
Jumlah ini berkontribusi pada pengurangan emisi sebesar 36 juta ton CO2 dengan total investasi yang dibutuhkan adalah USD26 miliar.
Sisanya 3,7 GW akan pensiun dini dan diganti dengan pembangkit listrik EBT.
Angka ini akan berkontribusi pada pengurangan emisi total sebesar 53 juta ton CO2 dengan total investasi yang dibutuhkan adalah USD22 miliar (sekitar USD8 miliar USD untuk penghentian PLTU dan sisanya USD14 miliar untuk EBT).
Guna mencapai hal tersebut, Arifin mengungkapkan tiga hal penting yang dapat dijadikan lingkup kerja sama dengan mitra internasional, yaitu kerjasama melalui technology sharing dan capacity building, bantuan teknis dan akses teknologi terkini serta mendukung penciptaan lapangan kerja baru, serta peningkatan investasi di bidang energi terbarukan, efisiensi energi, dan proyek infrastruktur.
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ego Syahrial juga menegaskan dukungan dari lembaga pembiayaan internasional dalam menyelesaikan masalah perubahan iklim di sektor energi.
“Pemerintah Inggris, Republik Federal Jerman, dan Kerajaan Denmark, menunjukkan komitmennya untuk mendukung transisi energi Indonesia. Kami juga telah mengumpulkan dari lembaga pembiayaan internasional, yaitu Bank Pembangunan Asia dan Bank Dunia mengenai bagaimana reformasi fiskal dan struktural perlahan membantu Indonesia keluar dari ketergantuan penggunaan batubara secara bertahap,” jelas Ego.















