Sedangkan jika kondisi pasar sudah dalam, maka dana asing yang akan keluar bisa segera ditangkap oleh investor domestik. “Kalau hal ini sudah terjadi, berarti pasar kita sudah lebih resilient,” tutupnya.
Sementara itu, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, langkah kebijakan stimulus bank sentral Eropa yang mencapai EUR60 miliar tidak berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Sebab saat ini pemerintah hanya mencemaskan kelanjutan perlambatan ekonomi yang terjadi di Tiongkok.
“Stimulus Eropa tidak terlalu berpengaruh, pemerintah hanya cemaskan lanjutnya perlambatan ekonomi Tiongkok, itu akan mempengaruhi performa kita,” kata Bambang ditemui dalam acara Mandiri Investment Forum 2015 yang bertajuk “Indonesia: Pushing the Structural Reform” di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Selasaa (27/1).
Menurutnya, dari diskusi bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang terjadi kemarin, pemerintah masih tetap optimistis dan tidak akan menunjukkan rasa pesimisnya kepada masyarakat dalam menjalani stimulus yang dilakukan Eropa.
Lantaran stimulus yang dijalankan Eropa tidak sebesar yang dilakukan AS.
Ada dua alasan pemerintah tidak memperhatikan stimulus Eropa. Pertama, ukuran dananya tidak terlalu besar seperti yang dijalankan AS yang mencapai USD65 miliar-USD80 miliar per bulan untuk menahan pelemahan ekonomi yang terjadi di negeri Paman Sam.













