Airlangga menambahkan, selain untuk memenuhi kebutuhan domestik, produksi PT. QMB New Energy Materials juga akan menyasar ke pasar ekspor.
“Sesuai dengan arahan Bapak Presiden Joko Widodo, dalam upaya menggenjot ekspor, diperlukan peningkatan investasi,” jelasnya.
PT. QMB New Energy Materials merupakan wujud kerja
sama antara perusahaan Tiongkok, Indonesia dan Jepang yang terdiri dari
GEM Co.,Ltd., Brunp Recycling Technology Co.,Ltd., Tsingshan, PT IMIP
dan Hanwa. Pabrik ini akan dikembangkan dengan lahan seluas 120 hektare.
Total
investasi yang ditanamkan sebesar USD700 juta dan akan menghasilkan
devisa senilai USD800 juta per tahun. Dari pabrik ini juga bakal
menciptakan penyerapan tenaga kerja langsung sebanyak 2.000 orang.
PT. QMB New Energy Materials memiliki
kapasitas konstruksi nikel sebesar 50.000 ton dan kobalt 4000 ton, yang
akan memproduksi di antaranya 50.000 ton produk intermedit nikel
hidroksida, 150.000 ton baterai kristal nikel sulfat, 20.000 ton baterai
kristal sulfat kobalt, dan 30.000 ton baterai kristal sulfat mangan.
Menko Luhut menyampaikan, proyek pembangunan pabrik nikel literit di Morowali ini merupakan industri pertama di Indonesia, bahkan akan menjadi salah satu produsen yang terbesar di dunia.














