Lebih lanjut dia menjelaskan, program pengembangan produksi mobil penumpang hemat energi dan harga terjangkau buatan dalam negeri atau yang lebih populer disebut Low Cost and Green Car ditujukan agar mampu “survival” dan memenangkan persaingan industri otomotif di era FTA ASEAN dan Asia Timur. Aktivitas Program ini dimulai sejak 4 tahun yang lalu dengan mengadakan pendekatan ke investor, pemilik hak cipta merek (Principal), lembaga riset (R&D), industri komponen, regulator, dan lain-lain. Program ini telah membuahkan hasil dengan masuknya investasi baru pada 5 (lima) industri mobil dan sekitar 100 industri komponen otomotif, serta industri bahan baku baja dan plastik. Industri komponen yang terbentuk akan dapat menunjang program lain yang simultan sedang dijalankan antara lain: Program Angkutan Umum Murah (angkutan pedesaan), program manufaktur mobil dengan merek orisinal domestik, dan lain-lain. “Program Low Carbon Emission bagi mobil buatan dalam negeri untuk semua kapasitas mesin Internal Combustion Engine (ICE) termasuk didalamnya yang mengadopsi teknologi hybrid, converter kit BBG, dan lain-lain. Program ini untuk mendorong produksi mobil yang hemat BBM dan lebih bersih emisi gas buang,” pungkas dia.















