Suryamin mengatakan kenaikan tersebut disebabkan dampak dari kenaikan tarif listrik. Namun demikian, hal tersebut tidak terlalu mengkhawatirkan, mengingat kenaikan listrik yang tidak selalu terjadi di setiap bulan.
Sementara itu, bersamaan dengan diumumkannya Indeks Harga Konsumen, BPS melansir angka ekspor dan impor bulan Juli 2014. Nilai Ekspor RI pada Juli 2014 mencapai 14,18 miliar dollar AS atau mengalami penurunan sebesar 7,99 persen dibandingkan bulan Juni. Hal tersebutkan dipicu oleh menurunnya eskpor migas dan nonmigas, masing-masing sebesar 8,59 persen dan 7,86 persen.
Sejalan dengan hal tersebut, nilai impor yang mencapai 14,05 miliar dollar AS juga mengalami penurunan sebesar 10,47 persen dibandingkan bulan Juni. Penurunan nilai impor tersebut bersumber dari penurunan pada impor nonmigas sebesar 19,55 persen.
Jika dibandingkan dengan nilai ekspor, nilai impor pada Juli 2014 mengalami penurunan yang lebih besar, kondisi ini kembali memberikan catatan surplus pada neraca perdagangan Juli 2014 sebesar 123,7 juta dollar AS, yang diikuti pula oleh surplus dari sisi volume perdagangan sebesar 32,17 juta ton. Namun lebih jauh, secara kumulatif (Januari-Juli 2014) Neraca Perdagangan Indonesia masih mengalami defisit, yaitu sebesar 1,02 miliar dollar AS.












