Selain itu, pertumbuhan konsumsi RT juga didukung oleh transaksi kartu kredit yang masih tumbuh sembilan persen, upah riil petani yang masih bagus, dan juga jumlah bantuan sosial yang besar, sehingga presentasenya meningkat.
“Mungkin konsumsi rumah tangga ke depan akan tetap kuat meski tidak sekuat ini, kecuali ada yang menggerakkan lagi di triwulan IV karena ada liburan panjang dan persiapan jelang Natal dan tahun baru,” kata Suhariyanto.
BPS mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan II-2018 tumbuh 5,27 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 5,01 persen.
Angka 5,27 persen tersebut juga lebih tinggi dibandingkan pada periode yang sama pada 2016 dan 2015 yang masing-masing tumbuh 5,21 persen dan 4,74 persen.
Namun, secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 baru mencapai 5,17 persen, masih di bawah target dalam APBN 2018 5,4 persen.













