“Kelompok yang kombinasi kelas menengah dan generasi millennial yang buat mereka itu life style important, experience important. Jadi, buat mereka minum kopi (sebagai life style) itu penting,” contoh Menkeu tentang perilaku generasi millennial yang mengedepankan pentingnya gaya hidup dan pengalaman.
Selain dari sisi kuliner, kelas menengah dan generasi millennial menyukai fashion, menikmati pertunjukan seni serta pariwisata. Hal tersebut merupakan peluang bagi para pelaku industri kreatif untuk menciptakan produk dan jasa di bidang tersebut.
Senada dengan Menkeu, Chatib Basri mencontohkan kebutuhan konsumen telah bergeser bukan pada pemenuhan kebutuhan dasar (needs) tetapi pada selera (wants).
“Itu (selera konsumen) berubah dari yang namanya needs kepada wants. Jadi kalau orang berbicara mengenai wants, dia tidak bicara lagi mengenai pakaian itu dipakai tapi dia harus indah, harus menarik. Makanan itu bukan sebagai alat untuk gizi tapi dia harus enak. Nah, ini yang saya lihat bahwa masa depan industri kreatif jadi unlimited,” tambah Chatib Basri.
Perubahan selera tersebut telah menciptakan pekerjaan-pekerjaan baru yang menjanjikan masa depan yang baik seperti menjadi juru masak dan barista. Padahal pekerjaan-pekerjaan tersebut dulu masih dipandang sebelah mata.













