JAKARTA – Setelah aktif bernegosiasi, tingkat tarif untuk Indonesia berhasil diturunkan dari 32% menjadi 19%.
Namun demikian penurunan tarif in ditambah beberapa komitmen yang diumumkan langsung oleh Presiden Trump untuk membeli produk energi senilai USD15 miliar, produk pertanian senilai USD4.5 miliar dan 50 pesawat terbang.
Senior Portfolio Manager – Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Syuhada Arief menilai tarif untuk Indonesia memang turun dari 32% ke 19%.
“Tapi kita harus ingat, tetap ada kenaikan dibandingkan tahun lalu yang hanya 10%,” jelasnya.
Menurutnya, kenaikan ini tetap akan berdampak pada perdagangan, mengingat ekspor unggulan ke AS adalah sektor padat karya seperti misalnya alas kaki dan tekstil.
Namun secara relatif tarif yang dikenakan ke Indonesia adalah salah satu yang terendah di ASEAN, hanya kalah dari Singapura yang tarifnya 10%.
Indonesia punya peluang untuk meningkatkan daya saing ekspor, jika dilakukan pembenahan dari sisi kualitas, konsistensi, regulasi, logistik dan sebagainya.
Mengenai komitmen, pembelian produk energi dan pertanian tidak memberatkan.
Di tahun 2024 Indonesia mengimpor energi dari AS senilai USD2 miliar, sementara dari negara-negara lain senilai USD33 miliar.















