Pantun keduanya, suan tobu di bibir, dohot di ate-ate, artinya manis bukan hanya di mulut, tetapi juga di hati. Kebaikan yang dikatakan juga kebaikan yang dilakukan dengan sepenuh hati.
“Yang ketiga, tangi di siluluton, inte di siriaon. Jika ada kemalangan, walaupun tidak diundang, kita wajib berupaya untuk datang dan menolong. Namun demikian, jika ada kegembiraan, kita hanya wajib datang kalau diundang,” kata Presiden yang disambut dengan tepuk tangan para undangan.
Pantun keempatnya, bahat disabur sabi, anso adong salongon, yang artinya kalau kita banyak menanam, maka kita akan banyak memetik hasilnya.
“Artinya, banyak-banyaklah berbuat kebaikan, agar Ananda memetik kebahagiaan,” ungkap Presiden yang disambut dengan horas oleh keluarga yang hadir di tempat acara.
Presiden juga mengucapkan terima kasih atas penerimaan, keramahtamahan, dan sambutan yang luar biasa kepada dia dan keluarga, termasuk pemberian marga Siregar kepada putrinya, Kahiyang Ayu.
“Saya yakin persaudaraan kita akan terus berlanjut dan membawa berkah kepada kita semuanya, kepada masyarakat, kepada bangsa dan negara,” tambah Presiden.
Presiden menyampaikan nasihatnya setelah Bobby dan Kahiyang “mangupa-upa” (diberikan makanan) dan mendapat gelar adat yang didalamnya berisi nasihat dan doa.















