“Kalau salat malah sering saya diingatkan pengurus gereja untuk salat tepat waktu. Kalau sedang puasa Ramadhan, tamu-tamu disini suka memberikan saya takjil, kasih paket sembako,” katanya.
Menurut Kesi, sejak tahun 2018 dia tinggal menjaga Gereja HKBP Ciputat.
Dan hampir semua jemaat Gereja tersebut, tahu kalau dirinya seorang muslim.
Dia pun sangat paham bertemu dengan tamu-tamu Gereja yang beda agama, adat dan kebudayaan.
“Semua tahu keluarga saya muslim. Makanya kalau mereka ada makanan yang engga halal, mereka bilang saya, ini jangan. Engga halal soalnya. Kalau makanan halal pasti mereka kasih saya,” ucapnya.

Kesi menceritakan, awal mula dia dan keluarga tinggal menjaga keamanan dan lingkungan Gereja.
Dari seorang jemaah Gereja HKBP Ciputat, yang merupakan langganan usaha warung nasi nya di Ragunan, merasa iba terhadap dia dan anaknya.
Saat itu, jemaah tersebut mengajaknya bekerja menjadi juru bersih dan suaminya Adiyanto menjaga keamanan Gereja.
“Katanya dia kasihan sama anak saya. Karena engga punya teman main, terus waktu itu kami engga punya tempat tinggal dan tidur ditrotoar. Jadi diajak bekerja di Gereja ini,” ungkapnya.














