SOLO-Di Solo, akademisi dari 14 perguruan tinggi yang bertemu dalam Focus Group Discussion (FGD) mendukung gagasan dibentuknya “INDONESIA RAYA INCORPORATED (IRI) “, Rabu (21/12). IRI diusulkan oleh AM Putut Prabantoro Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) dalam uraiannya kepada para akademisi.
IRI ini diharapkan dapat mengatasi dua persoalan utama yang dihadapi Indonesia yakni pemerataan kesejahteraan dan kedua adalah ancaman (potensi) perpecahan dalam tubuh NKRI sebagai sebuah negara (bangsa). Poin utama dari IRI adalah baik industri hilir dan industri hulu harus dimiliki negara dan rakyat melalui “perkawinan” badan usaha permerintah (negara) dan badan usaha pemerintah daerah yang masing-masing menguasai saham mayoritas di badan usahanya.
Para akademisi sangat mendukung terwujudnya IRI meskipun dengan berbagai catatannya. Inilah komentar para akademisi yang juga pakar di bidangnya.
Prof. Dr. Ir. Darsono MS (Universitas Sebelas Maret)
“Kalau IRI terwujud betapa kaya_rayanya masyarakat Indonesia. Karena yang terjadi pada saat ini sudah terbalik dari cita-cita UUD 45. Rakyat membutuhkan negara kuat dan BUMN atau badan usaha milik pemerintah yang sehat. Karena dengan masyarakat akan menjadi kuat. Namun untuk mewujudkan IRI tidak hanya perlu revolusi mental tetapi juga revolus struktural. Kita harus bekerja keras untuk menghindari pecahnya Merah Putih. “















