Secara terpisah, Sekjen Serikat Petani Indonesia (SPI), Achmad Ya’kub menilai kebijakan impor beras ini terkesan panik. Sebab, tidak ada alasan yang akurat terkait data luas panen dan produksinya. Bahkan hingga kini, data soal stok beras lebih kepada data politik daripada data ilmiah.”Kalau paradigma ekonomi rente ada yang untung $10/ton kali aja 500.000 ton, berapa keuntungan yang didapat. Belum lagi dari gain penjualan berasnya di dalam negeri. Misalnya $50/ton sudah berapa itu,” ujarnya dengan nada tanya.
Karena itu, Yacub berharap agar kenaikan harga beras serta impor beras ini menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola perberasan secara nasional.
“Jadi, data luas panen dan lahan pertanian (khususnya padi) berapa ha? perlu diaudit pembukaan lahan baru sudah berapa ha, dimana dan siapa petaninya,” tuturnya. ***














