JAKARTA, BERITAMONETER.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kinerja intermediasi perbankan tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga. Pada Januari 2026, kredit tumbuh sebesar 9,96% yoy menjadi Rp8.557 triliun, meningkat dibandingkan posisi Desember 2025 yang tumbuh 9,63%.
Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK menyampaikan, berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi tumbuh tertinggi yaitu sebesar 22,38%, diikuti oleh kredit konsumsi 6,58%, sedangkan kredit modal kerja 4,13%. Berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh sebesar 16,07%.
“Ditinjau dari kepemilikan, kredit bank BUMN tumbuh sebesar 13,43% yoy. Porsi produk kredit buy now pay later (BNPL) perbankan tercatat sebesar 0,32%,” katanya dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK, di Jakarta, Selasa (03/3/2026).
Per Januari 2026, baki debet kredit BNPL sebagaimana dilaporkan dalam SLIK, tumbuh 20,15% yoy (Desember 2025: 19,32% yoy) menjadi Rp27,1 triliun, dengan jumlah rekening mencapai 31,23 juta (Desember 2025: 31,21 juta).
Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 13,48% yoy (Desember 2025: 13,83% yoy) menjadi Rp10.076 triliun, dengan giro, deposito dan tabungan masing-masing tumbuh sebesar 19,75%, 12,61%, dan 8,27% yoy.













