Archied mengatakan, strategi deleveraging merupakan wujud komitmen Perseroan dalam menjaga stabilitas dan struktur finansial. Upaya struktur biaya yang efisien dan peningkatan kinerja penjualan, khususnya dari segmen kawasan industri, menjadi faktor penting dalam memperbaiki kinerja keuangan secara keseluruhan dan menjaga rasio-rasio keuangan tetap sehat.
Rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) pun semakin susut. Pada 2022, rasio utang terhadap ekuitas DILD masih mencapai 61,1%. Kemudian, DER menjadi 58,5% pada 2023, dan menjadi 50,3% pada 2024. Pada semester I 2025, rasio utang terhadap ekuitas DILD itu kembali menurun menjadi 47%.
“Selain mendorong kinerja penjualan, fokus penting kami saat ini adalah menjalankan strategi deleveraging secara disiplin, mulai dari pelunasan, pengurangan, refinancing pinjaman berbunga tinggi, hingga divestasi aset non-core. Langkah ini akan memberikan dampak signifikan terhadap penurunan beban bunga dan penguatan struktur permodalan,” ujarnya.
Namun, mengutip laporan keuangan per Juni 2025, DILD meraih pendapatan sebesar Rp1,21 triliun di semester I 2025, turun 10,80% dari Rp1,36 triliun pada periode sama 2024. Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 96,57% jadi Rp12,56 miliar pada semester I 2025, jika dibandingkan Rp366,85 miliar pada semester I 2024. Meski laba turun, EBITDA naik dari 22% pada semester I 2024 menjadi 28% pada semester I 2025.














