Menurut dia, sentimen terhadap properti juga turun, sedangkan dana tunai masih menjadi pilihan utama investor di Indonesia. “Dari survei yang dilakukan, persentasi pada dana tunai yang dilakukan mencapai 85 persen, rumah 66 persen, properti 67 persen, investasi pendapatan tetap 43 persen, reksa dana -14 persen dan saham -20 persen,” ,” ujar Putut.
MISI menekankan, walaupun terjadi tren penurunan sentimen secara bertahap terhadap dana tunai dan semakin sedikit investor yang menyatakan bahwa mereka memiliki dana tunai pada Kuartal III-2013. Porsi dana tunai dan deposito dalam portofolio investor meningkat signifikan dari 28 persen menjadi 42 persen. “Namun, 64 persen responden Indonesia merasa tidak memiliki dana tunai yang cukup,” imbuhnya.
Sebanyak 18 persen dari total dana tunai akan digunakan untuk membayar kebutuhan sehari-hari dan biaya tidak terduga. Sebanyak 18 persen lainnya untuk membiayai pendidikan anak dan sebesar 17 persen untuk simpanan masa pensiun. Sisanya, untuk biaya pengobatan di masa depan, membeli rumah dan membeli kebutuhan besar lainnya.
Meski indeks sentimen Indonesia di kuartal ketiga menjadi 38 atau menurun 60 di kuartal kedua, namun Indonesia mesih tetap menjadi negara tertinggi kedua yang memiliki indeks peositif setelah Malaysia. Indeks untuk China, Singapura, Jepang, Taiwan dan Hong Kong lebih rendah, tetapi masih di area positif.













