Sesampainya di lokasi tersebut, Michael menuturkan bahwa ada 20 orang crew Garuda GA716 yang menginap.
Ia mengaku mendapat informasi itu dari petugas hotel.
Tak lama, pihak Garuda melakukan penggeledahan ke beberapa kamar crew.
Kemudian, setelah menggeledah beberapa kamar, pihak Garuda memerintahkan crew untuk keluar hotel.
Namun, saat Michael mencoba melacak kembali handphone miliknya setelah crew Garuda di hotel itu keluar, 10 menit kemudian iPhone miliknya justru sudah berpindah lokasi ke Yarra River di Southbank Promenade, yang jaraknya 100 meter dari hotel.
Mufti pun menyayangkan kejadian tersebut dan menilai kru maskapai Garuda Indonesia telah gagal menjaga kepercayaan penumpangnya.
“Penumpang bukan saja kehilangan barang namun juga kehilangan rasa aman dan kepercayaan di tempat yang seharusnya menjaga penumpangnya,” tegas Legislator dari Dapil Jawa Timur II tersebut.
Lebih jauh, Mufti Anam juga mengkritik PT Garuda Indonesia yang terus-menerus menerima suntikan dana dari pemerintah.
Baik melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) maupun dari holding Danantara, namun tak kunjung menunjukkan perbaikan signifikan.
“Kita bicara soal kepercayaan publik. Bagaimana masyarakat bisa percaya Garuda bisa bangkit, kalau integritas SDM-nya saja dipertanyakan? Pemerintah dan Danantara katanya sudah menyuntikkan dana hingga puluhan triliun. Tapi untuk urusan dasar seperti keamanan barang penumpang saja, Garuda gagal,” paparnya.















