Menurut Kiki Syahnakri, secara geopolitik saat ini Indonesia mengalami ancaman serius, yakni hegemoni global. Dikatakannya, ancaman global datang dari AS dan Cina. Kedua negara hegemonik ini ingin menjadikan Indonesia sebagai sapi perah buat mereka.
“Tapi melakukannya dengan soft power, bukan hard power. Dulu perang melalu penghancuran fisik, pendudukan fisik, sekarang tidak. Sekarang melalui penghancuran dari dalam sehingga negara mengalami self destruction,” ungkapnya.
Dia mengingatkan, bahaya dari hegemoni AS di Indonesia yang secara sistematis melucuti kedaulatan Indonesia.
“Tiba-tiba kita sudah tidak memiliki kedaulatan di bidang ekonomi. Tidak heran pada 1999-2002 terjadi 4 kali amandemen, dan tidak terasa amandemen ini sudah terlalu liberalistik, tidak Pancasila,” ujarnya.
Dijelaskan Kiki, bahkan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj sewaktu menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) pada 2008 mengatakan, sudah ada 72 Undang Undang turunan hasil amandemen yang pembuatannya ditongkrongi oleh konsultan asing.
Sekarang, katanya malah sudah ada ratusan. Contohnya, Undang Uindang Nomor 25 Tahun 2007 tentang investasi. Di salah satu pasalnya diatur tentang hak guna usaha, bahwa perusahaan asing dalam pertambangan diberikan ijin selama 95 tahun dan bisa diperpanjang di muka 65 tahun.












