Wasis menegaskan bahwa karya tersebut sangat aman. “Bahan yang ringan dan juga bentuknya seperti kotak menambah keamanan pada perahu ini,” terang dosen Jurusan Teknik Perkapalan ITS tersebut. Tak hanya itu, Wasis menyatakan bahwa karya tersebut juga lebih murah dibandingkan dengan rescue boot biasa. Menurutnya, inovasi buatan kampus ini bisa lebih murah sampai 25 persen.
Karya ini sendiri merupakan sebuah inovasi yang tepat guna bagi masyarakat. Dengan adanya perahu tersebut juga bisa membantu industri yang membuat plastik. Keuntungan lain dari adanya perahu tersebut yakni bisa didaur ulang secara terus menerus. “Sangat berbeda jauh dengan perahu yang menggunakan bahan fiber glass, meski ringan tapi bahan tersebut hanya untuk sekali pakai,” tutur Wasis.
Yang cukup lama dari proses ini, menurut Wasis, adalah membuat cetakannya. Perahu ini sendiri dibuat melalui sebuah cetakan yang sesuai dengan kebutuhan. Mulai dari panjang, lebar, dan tinggi kapal semuanya sudah ditentukan terlebih dahulu lewat pembuatan cetakannya. Pembuatan cetakannnya sendiri bisa menghabiskan waktu selama seminggu. Namun untuk produksi kapal, per harinya bisa sampai mencapai enam buah kapal.
Perahu buatan kampus ITS ini juga sudah dikirim ke Bojonegoro untuk persiapan menghadapi banjir dari sungai Bengawan Solo. ”Sudah kami kirim beberapa ke sana (Bojonegoro, red), mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” ujar laki-laki yang memakai kacamata tersebut. Ia pun memberikan bocoran bahwa ke depan akan mencoba membuat perahu yang memiliki ukuran hingga sepuluh meter.














