“Berdasarkan pengalaman negara lain seperti Jepang, China, Singapura, dan Thailand, ketika mereka berada pada masa bonus demografi, pertumbuhan ekonominya tinggi. Nah, inilah yang bisa menjadi kesempatan bagi Indonesia dengan potensi populasi tenaga kerja sekarang,” paparnya.
Oleh karena itu, pemerintah telah meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 sebagai kesiapan untuk memasuki era revolusi industri 4.0.
Melalui beberapa langkah strategis, diyakini dapat merebut peluang dari efek ekonomi digital.
“Kalau pembangunan tanpa ekonomi digital, pertumbuhan hanya 5 persen. Bagi Indonesia, ingin meningkatkan dengan penambahan lapangan kerja atau job creation,” imbuhnya.
Dalam aspirasi besar Making Indonesia 4.0 adalah menjadikan Indonesia masuk jajaran 10 negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030.
“Dengan revolusi industri 4.0, peningkatan terhadap PDB riil bisa tumbuh 1-2 persen, penambahan hingga 10 juta lapangan kerja, dan kontribusi manufaktur terhadap PDB sebesar 25 persen sampai tahun 2030,” sebut Airlangga.
Pada sesi tanya jawab, Lisbeth yang mewakili Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UHN mengajukan pertanyaan kepada Menperin mengenai langkah yang perlu dipersiapkan seorang mahasiswa setelah lulus agar mampu menghadapi era industri 4.0.














