Lebih lanjut, dikatakan persoalannya adalah KPU punya banyak masalah, sehingga jika lembaga QC mengumumkan data dari tempat pemungutan suara (TPS) yang dalam proses pemilu rusak, maka data rusak yang diumumkan itu jadi seolah-olah benar.
“Misalnya, ada kecurangan pengerahan massa dan politik uang, kemudian diumumkan hasil di atas kertas, seolah-olah mereka mengabaikan nilai moral, yang penting angka keluar. Kalau ada kecurangan temukan sendiri. Bagi saya harus ada tanggung jawab etika dalam politik, jangan orang-orang yang pintar itu ikut merusak sistem yang ada,” tegas Feri.














