JAKARTA-Konsultan Komunikasi Politik, AM Putut Prabantoro meminta masyararakat Jogyakarta agar berada di garda terdepan gerakan anti politik uang mengingat posisinya sebagai salah satu daerah yang menjadi barometer politik di Indonesia. Demi eksistensinya sebagai kota sejarah, masyarakat Jogyakarta seharusnya merasa tersinggung dengan praktik budaya “serangan fajar”. “Yogyakarta memiliki kekuatan moral melakukan perubahan politik bagi Indonesia untuk menuju negara demokrasi yang bersih, jujur dan tanpa politik uang. Karena itu, masyarakat Jogyakarta secara tegas menolak politik uang serta mengawali pembaruan politik bersih serta bermartabat sebagaimana ketika memulai Orde Reformasi pada 1998,” ujar Putut, di Jakarta, Minggu (15/6).
Catatan sejarah menunjukkan bahwa setiap langkah perubahan politik Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peranan Jogyakarta sebagai Kota Sejarah yang terkait dengan posisinya sebagai Kota Pelajar. Contoh yang masih hangat dalam ingatan adalah perubahan politik Indonesia dengan berakhirnya kekuasaan Orde Baru diawali dengan Pisowanan Agung masyarakat Jogyakarta kepada Sri Sultan Hamengkubuwono X pada tahun 1998.
Menurut Putut, politik uang dengan menggunakan istilah “Serangan Fajar” diambil dari judul film karya Arifin C. Noer pada 1982 yang bercerita tentang direbutnya kembali Jogyakarta oleh gerilyawan republik dari tangan penjajah Belanda. Para gerilya menduduki kota itu hanya selama enam jam dengan diawali serangan pagi-pagi buta. “Serangan Fajar” pada jaman Orde Baru menjadi tontotan wajib bagi seluruh masyarakat Indonesia yang ditayangkan melalui TVRI. “Namun sejak 1998, empat bulan setelah jatuhnya Orde Baru, film “Serangan Fajar” tidak menjadi tontonan wajib dengan alasan memanipulasi sejarah serta mengkultuskan Soeharto. Dengan datangnya sistem politik baru serta perebutan kekuasaan dengan sistem multi partai, istilah serangan fajar digunakan untuk menjelaskan munculnya budaya politik uang,” ujar Putut Prabantoro, yang juga Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) – dari wartawan, oleh wartawan dan untuk Indonesia.











