JAKARTA- Capres Joko Widodo berjanji menambah kekuatan TNI-Polri dengan cara menaikan anggaran yang besar. Anggaran bagi TNI-Polri akan dinaikan 3 kali lipat dari anggaran saat ini atau diatas Rp 200 triliun jika pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 7%.
Demikian disampaikan Jokowi saat ditanya oleh capres Prabowo Subianto soal strategi apa yang dilakukan jika wilayah kedaulatan diduduki negara lain dalam debat capres di Hotel Holiday Inn, Jakarta Utara, Minggu (22/6).
Saat itum Prabowo menilai, postur kekuatan TNI saat ini masih kurang dengan jumlah personel yang tidak bisa meng-cover wilayah Indonesia. Dalam debat capres, Prabowo meminta tanggapan Joko Widodo bagaimana cara Indonesia bisa meningkatkan kekuatan TNI. “Postur angkatan perang kita sudah cukup kuat apa perlu ditambah atau dikurangi, cara menambahnya bagaimana? Saat ini pasukan darat kita ada 160 batalyon padahal kita punya 500 kabupaten ada 300 kabupaten yang kosong. Bagaimana cara mengisi kabupaten yang tidak ada tentaranya,” tanya Prabowo.
Prabowo kemudian menimpali, apakah saat ini Indonesia butuh tentara cadangan atau tidak yang sewaktu-waktu bisa digunakan.
Saat ini, anggaran untuk TNI saat ini hanya Rp 80 triliun per tahunnya. Untuk menambah kekuatan dibutuhkan anggaran yang besar, syaratnya adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia harus di atas 7 persen. “Kalau ekonomi kita tumbuh di atas 7 persen, kami yakin dalam waktu 4-5 tahun anggaran untuk TNI bisa tiga kali lipat di atas Rp 200 triliun. Kuncinya ekonomi kita harus tumbuh di atas 7 persen. Kita punya anggaran yang lebih besar, baik untuk menambah jumlah prajurit dan alutsista kita dan menambah alat pertahanan kita, sehingga semua wilayah bisa kita kuasai dengan baik. Dengan peralatan dan dengan personel yang cukup, baru kita bisa menyampaikan kita betul siap, negara punya wibawa dan dihormati negara lain,” kata Jokowi.












