Artinya publik sulit mengharapkan kasus-kasus korupsi yang sudah dibongkar Buwas akan berlanjut penyidikannya hingga ke pengadilan. Traumatik yang ditanggung Anang diperkirakan akan membuat kasus korupsi itu “ditiarapkan”. “Tentunya hal ini akan membuat koruptor merasa menang dan makin besar kepala,” tegasnya.
Lebih lanjut, Neta mengatakan mandegnya penanganan korupsi ini juga akibat pernyataan Menkopolhukam, Luhut Pandjaitan. Sebelumnya, Luhut mengatakan, dalam membongkar kasus korupsi, Buwas sudah menimbulkan kegaduhan yang berdampak pada rusaknya perkembangan ekonomi. “Pernyataan Menkopolhukan ini tentulah sangat salah kaprah dan membuat aparat kepolisian menjadi takut dlm menangani kasus korupsi,” kritiknya.
Bersamaan dengan dimutasinya Buwas, sejumlah Kapolda dan pejabat tinggi Polri ikut dimutasi. Namun dari sejumlah mutasi itu, ada dua hal yang menarik dalam mutasi kali ini. Pertama “dibersihkannya” orang-orang Sutarman (mantan Kapolri). Kedua, masuknya teman dekat Jokowi memegang jabatan strategis, yakni Brigjen Bambang Waskita yang menjadi Dirkrimsus. “Selama ini Dirkrimsus Brigjen Viktor Simanjuntak menjadi ujung tombak Buwas dalam mengungkap kasus2 korupsi, seperti kasus TPPI, kasus Pertamina Foundation, kasus Pelindo II dll,” pungkasnya.















