Diakui Presiden, sudah terlalu lama mendiamkan, banyak pasif mendiamkan penyebaran isu-isu itu.
Oleh sebab itu, lanjut Presiden, sudah saatnya merespon dan melawan bersama-sama dengan meluruskan hal-hal yang tidak betul.
Presiden menunjuk contoh, sudah 3-4 minggu ini informasi yang diterimanya, kabar-kabar sampai ke bawah dari pintu ke pintu, dari rumah ke rumah.
Misalnya pendidikan agama akan dihapus, kemudian juga akan ada larangan azan, akan dilegalkan, diperbolehkan perkawinan sejenis, dan akan dilegalkan perzinaan.
“Ini sesuatu yang tidak nalar, tidak masuk logika tapi masyarakat percaya. Ini hati-hati,” tegas Presiden Jokowi.
Kepala Negara menegaskan, siapapun Presidennya nggak mungkin berani melakukan itu. Karena negara ini adalah negara terbesar, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia yang penuh dengan norma-norma agama, nilai-nilai agama, norma-norma etika, nilai-nilai tata krama.
“Enggak mungkin. Tapi ini harus dijelaskan kepada masyarakat bahwa ini adalah tidak benar. Kalau kita diam dan kita tahu, kita tidak meluruskan maka akan semakin menjadi-jadi,” seru Kepala Negara.















