JAKARTA-Alokasi anggaran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terus membesar membuat pemerintah tidak memiliki kemampuan membangun sarana infrastruktur yang memadai.
Karena itu, pemerintah tidak bisa terus-menerus membakar hampir Rp 800 triliun uang subsidi BBM setiap tahun.
“Uang sebesar itu, lebih baik digunakan untuk hal-hal produktif dan terarah seperti untuk membangun infrastruktur yang dapat mempercepat realisasi swasembada pangan,” ujar Presiden Joko Widodo saat memberikan pembekalan kepada Peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan ke-51 dan ke-52 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) 2014 di Istana Negara, Jakarta, Selasa (18/11).
Presiden Jokowi lalu membeberkan beberapa analogi merujuk besarnya subsidi selama ini.
“Kalau dibuat waduk yang harganya Rp 400-500 miliar, bisa jadi 1.400 waduk,” katanya.
Presiden merasa heran selama ini Indonesia belum pernah membangun waduk waduk baru lagi.
Padahal, waduk sesuatu yang produktif karena menghasilkan keuntungan bagi rakyat. “
Membangun waduk memang mahal, tapi sangat produktif karena menghasilkan keuntungan bagi rakyat,” tuturnya.
Menurutnya, anggaran untuk subsidi BBM seharusnya bisa dialihkan ke sektor produktif lain yang pro rakyat, seperti membeli mesin kapal dan mesin pendingin bagi nelayan, subsidi pupuk dan benih bagi petani, dan suntikan modal bagi pelaku industri rumahan.













