Andi mengatakan, kehadiran kilang tidak hanya ditujukan untuk mendorong pemasukan devisa bagi negara, namun juga dapat menjadi pemicu munculnya investasi lainnya di KTI. Terlebih saat ini, pemerintah tengah massif membangun infrastruktur di KTI.”Jadi kalau dia bangun didarat, ini akan menjadi pengumpan bagi investasi lainnya masuk ke KTI, utamanya terkait dengan pembangunan infrastruktur dan manufaktur. Kan ini yang masih rendah pertumbuhannya di KTI. Di Jawa saja manufaktur masih rendah pertumbuhannya, apalagi di KTI,” papar Andi.
Andi mengakui terdapat banyak silang pendapat soal lokasi Kilang Masela. Namun, bila ditanya kepada masyarakat Maluku dan KTI, pada umumnya menolak pembangunan di laut. “Masyarakat maunya di darat, sementara investor atau pengelola mungkin maunya di laut, alasannya lebih efisien,” ujar Andi.
Namun, Andi mengatakan, belum ada bukti atau model bahwa kilang di laut jauh lebih efisien atau murah. Sebagaimana diketahui beberapa pihak mengatakan, bahwa biaya pembangunan kilang apung hanya sebesar 14,8 miliar dolar AS. Sementara itu, biaya untuk pembangunan kilang darat mencapai 19,3 miliar dolar AS. “Ini kan baru satu contohnya di Australia. Itupun dia hanya separuh lebih kecil dari Masela,” terang Andi.














