JAKARTA-Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Bidang Industri Kreatif, Budiarto Linggowijoyo menilai, sektor perbankan masih kerap mematok suku bunga tinggi untuk sektor Usaha Kecil, dan Menengah (UKM). Padahal untuk bisa menggenjot pertumbuhan sektor UKM, akses pendanaan ke perbankan harus dipermudah. “Perbankan semestinya menyediakan suku bunga yang feasible bagi UMKM,” jelas dia di Jakarta, Rabu (18/11).
Menurutnya, sektor perbankan masih terlalu ambil untung besar dari kredit UKM. Seharusnya, pengenaan suku bunga tinggi hanya untuk debitur besar seperti korporasi. Sementara, untuk sector UKM dipatok suku bunga rendah.
Saat ini jelasnya, Indonesia menjadi negara dengan suku bunga tertinggi di ASEAN. Suku bunga yang ditetapkan masih dua digit. Bandingkan dengan Thailand yang memberikan suku bunga kecil dengan banyak subsidi.
Ia juga mencontohkan Jepang yang sangat peduli terhadap sektor ini. Di negeri Sakura ini, suku bunga kredit UKM untuk yang baru memulai atau start up sebesar 3,5 persen tapi bagi yang sudah eksis bisa mencapai di bawah 2 persen. “Saat ini suku bunga UKM juga masih double digit. Apalagi BI rate juga masih dipatok tinggi. Ini jelas menjadi beban bagi sektor UKM agar bisa bertumbuh,” jelasnya.













