“Mestinya Agus melihat ke Pak Darmin. Dia itu sangat pro pembangunan dan sektor riil makanya dia patok suku bunganya itu rendah. Dan Pak Jokowi juga maunya suku bunga rendah. Seperti saat ini suku bunga KUR diturunkan,” imbuhnya.
Untuk itu dimenyarankan hingga akhir tahun BI Rate terus diturunkanI sampai 7 persen. Dimulai dengan menurunkan 0,25 persen. Tapi memang dia sendiri mengakui dalam menurunkan suku bunga itu mesti hati-hati karena berdampak pada psikologi pasar. “Tapi tetap psikologi pasar itu harus dijaga. Agar jangan sampai ada valas yang lari. Makanya, turunnya suku bunga itu harus dijaga melalui kebijakan pengendalian inflasi. Itu memang perannya pemerintah,” jelas Soy.
Selama ini, Agus Marto selalu mengatakan, karena inflasi tinggi maka suku bunga tinggi. Akan tetapi, Soy mempertanyakan apakah hanya itu alasannya? Justru ketika dikaitkan dengan Net Interest Margin (NIM) atau marjin bunga bersih, suku bunga tinggi memengaruhi NIM yang lebar. Dengan begitu perbankan nasional hanya mengharapkan dana dari luar negeri yang memanfaatkan NIM yang lebar itu. “Siapa pun investasi ke perbankan atau lembaga keuangan Indonesia lain akan menikmati NIM yang lebar itu. Tapi dari sisi perbankan, ini pertanda bahwa perbankan kita belum efisien,” pungkas Soy. (TMY)















