“Representing itu tidak hanya menjadi corong saja tetapi seseorang dituntut memiliki konten khusus dalam hal ini. Dia harus mengetahui seluk beluk secara detil obyek wisata di daerahnya dan cerita di balik daerah tersebut, keistimewaan daerahnya dibanding dengan daerah lain, kuliner yang ditawarkan dan sekaligus kesan-kesan positip yang diberikan oleh wisawatan yang telah berkunjung. Dia juga harus mampu menjelaskan ketika ada berita dengan tone negative atau berita buruk yang menimpa daerahnya dan berpengaruh pada target kunjungan,” jelasnya.
Bagi pelaku usaha pariwisata baik sebaik usahawan ataupun sebagai pekerjanya harus bisa menjamin dan menjelaskan bahwa keamanan, keselamatan dan kenyamanan merupakan perioritas utama bagi para wisatawan, jika berita buruk menimpa daerahnya atau Indonesia. Hal ini sangat penting, menurut mantan Rektor Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, NHI ini, karena setiap target wisatawan sangat mudah mengakses informasi tentang suatu daerah melalui internet.
Jika pelaku pariwisata tidak “mengup-date“ informasi-informasi penting dari daerahnya sendiri atau juga dari Indonesia, ditakutkan ada misinformation yang diterima para target wisatawan. Bahkan tidak jarang, dalam sekala internasional tone negative itu direkayasa agar target wisatawan dapat dialihkan dari negara destinasi satu ke negara destinasi lain.














