“Coba dihitung, ada berapa keluarga muda di paroki? Berapa yang memfasilitasi anaknya untuk ikut BIR dan BIA? Kalah jauh dibanding yang lain,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut Kardinal menyambut baik kehadiran Sanctory, sebuah karya visual naratif yang menghadirkan kisah para santo dan santa dalam berbagai format untuk anak-anak.
Ia menyebut Sanctory sebagai bentuk tanggapan kreatif terhadap tantangan iman anak-anak Katolik masa kini.
“Saya menghargai inisiatif Sanctory sebagai sarana pembinaan iman anak-anak. Syukur kalau sudah ada tanggapan seperti ini. Itu artinya dihargai, dilanjutkan, dan diusahakan,” kata Kardinal Suharyo.
Kardinal Suharyo juga mengingatkan pentingnya membangun kerja sama yang konkret dan jangka panjang dengan berbagai elemen Gereja.
Kardinal Suharyo mengatakan Komisi Kateketik, Komisi Panggilan, Komisi Komunikasi Sosial (Komsos), dan media Katolik lainnya, termasuk Sanctory, dapat bekerja sama demi memperluas jangkauan dan daya guna karya kerasulan ini.
“Kerja sama itu penting, meskipun kita tahu tidak mudah. Masing-masing punya wilayahnya sendiri, tapi kalau ada yang mau konkret dan berkelanjutan, itu akan sangat membantu,” tambah Kardinal Suharyo.
Sanctory adalah brand multimedia kreatif Katolik yang menghadirkan tokoh-tokoh orang kudus dalam bentuk untuk anak usia 6–12 tahun.














