Melalui gaya visual yang ceria, penuh imajinasi, dan tetap setia pada nilai-nilai iman Katolik, Sanctory bertujuan menjadi jembatan yang menyenangkan antara anak-anak dan kekayaan spiritual Gereja.
Melalui tokoh-tokoh seperti Santo Benediktus, Santa Anna, Santo Fransiskus dari Assisi, dan banyak lagi, anak-anak diajak mengenal teladan hidup kudus secara menyenangkan dan menyentuh.
Karya-karya Sanctory dirancang tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media katekese visual yang relevan dan aplikatif di tengah tantangan dunia digital dan isu sekularisme.
CEO Sanctory Deodatus Pradipto menuturkan Sanctory lahir dari keprihatinan terhadap minimnya materi visual Katolik yang cocok bagi anak-anak.
Sanctory melihat anak-anak Katolik tidak memiliki bahan bacaan atau tontonan iman yang sesuai dengan usia dan cara berpikirnya.
Materi-materi katekese yang ada seringkali terlalu berat, kaku, bahkan tidak menarik.
“Kami melihat ada kesenjangan besar antara kebutuhan anak-anak Katolik akan cerita iman yang hidup dan ketersediaan bahan yang sesuai dengan dunia mereka. Sanctory hadir untuk menjawab celah itu,” ujar Deodatus.
Art Director Sanctory Brigitta Maria Loisa menambahkan sebagian besar materi katekese visual yang beredar saat ini tidak dirancang dari awal dengan pendekatan psikologi dan budaya visual anak-anak.














