Kata Kardinal, Hasto justru membuat suasana di rumah tahanan menjadi hidup. Dimana, sesama tahanan juga selalu didukung untuk tidak merasa dalam keterbatasan.
“Jadi bukan sesuatu yang tidak berarti tetapi justru diartikan. Kan tidak mudah ya mengartikan sesuatu yang tidak menyenangkan itu. Tetapi itulah yang ditemukan oleh Pak Hasto di dalam rumah tahanan ini, menemukan waktu untuk berdoa, menemukan waktu untuk berdiskusi, dan menulis refleksi-refleksi yang buah-buah dari peristiwa ini,” ungkap Kardinal Suharyo.
Lebih lanjut, Hasto juga disebut melakukan puasa selama tiga hari tiga malam selama di Rutan KPK.
Bahkan, menurut Kardinal, puasa yang dilakukan Hasto itu termasuk ekstrim dan tidak semua orang bisa lakukan.
“Salah satu yang boleh dikatakan ekstrim adalah menjalankan puasa 3 hari 3 malam tidak makan dan tidak minum,” kata Kardinal Suharyo.
“Itu sesuai dengan salah satu tokoh di dalam kitab suci yang namanya Ester, 3 hari 3 malam, saya itu tidak makan setengah hari saja pusing. Itu satu,” tambah Kardinal.
Mereka juga berdiskusi tentang doa umat Kristen dalam kesulitan.
“Biasanya orang minta dibebaskan dari kesulitan, tapi doa yang kami bahas justru memohon kekuatan untuk mewartakan kebenaran,” jelasnya.















