Datang dari Sampang, Madura, sekitar tahun 1996, Sholihin, mencoba mencari peruntungan di Ibu kota.
Pada saat itu umurnya, sekitar 17 tahun baru lulus SMA, Sholihin memberanikan diri dari daerah seberang, nan jauh disana, singgah di Kota Bekasi untuk menantang kehidupan demi masa depan dan impiannya selama ini.
Pada awal sampai bekasi, dengan membawa uang pas-pasan untuk mengontrak rumah petakan dan ada beberapa lebihnya untuk makan, Sholihin muda, tinggal disebuah kontrakan petakan di belakangan pasar baru, Bekasi Timur.
”Saat itu harga petakan masih sekitar seratus ribuan perbulannya, satu kamar dan wc diluar,” katanya.
Sehari di bekasi, Sholihin tidak buang-buang waktu.
Ia langsung mencari pekerjaan lamar sana sini.
Namun, sambil menunggu panggilan kerja, Ia tidak ingin hanya berdiam diri menunggu kepastian dan peruntungan.
Maklum saat itu, Ia hanya hidup sendiri dan harus membiayai kehidupannya.
”Saya bantu jual asongan diterminal, buat tambahan makan sehari-hari,” ujarnya.
Keberuntungan menghampiri Solihin, baru sekitar dua minggu menjual asongan, ia dipanggil oleh salah satu perusahaan dicibitung.
”Saya kerja dicibitung, sekitar setahunan. Disitu saya menabung,” kenangnya.
Setelah lepas kerja dari perusahaan dicibitung, Sholihin mendapat kesempatan bekerja menjadi karyawan supplier besi tua disalah satu perusahaan di Jakarta.













