Sebagai contoh lagi lanjut TB. Hasanuddin, di Lapas tidak ada orang yang bisa membaca Al-Quran dengan baik dan benar, kecuali napi teroris, maka napi teroris itulah yang menjadi imam shalat sekaligus menjadi khotib. “Sayangnya, ketika berkhotbah bukan bicara kerukunan beragama, Pancasila dan kesadaran berbangsa, melainkan masalah terorisme agar cepat masuk surga atau negara ‘khilafah’ dan lain-lain,” tambahnya.













