Putu menambahkan, rekondisi tersebut merupakan upaya untuk memperbaiki kondisi alat berat yang sudah tidak berfungsi lagi agar dapat dipasarkan kembali. Hal itu dapat menghemat anggaran pembelanjaan alat berat yang dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan harga seiring tuntutan pasar global.
Sementara itu, peluang pasar di industri alat berat masih cukup besar dan menarik bagi investor dalam dan luar negeri. Pemerintah terus memberikan dukungan dan fasilitas bagi investor yang akan menanamkan modalnya di Indonesia. “Dengan masuknya investasi tersebut, diharapkan dapat memperluas lapangan pekerjaan sekaligus mempercepat lajunya pertumbuhan industri dan ekonomi bangsa yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat,” tutur Putu.
Pemerintah juga akan terus menggalakan program peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN), terutama untuk proyek-proyek pemerintah dan BUMN. “Berbagai fasilitas diberikan kepada industri yang telah memiliki nilai tingkat komponen dalam negeri,” tegasnya.
Sementara itu, CEO Jimac Group Benny Kurniajaya mengatakan, perusahaannya telah bekerjasama dengan perusahaan alat berat terbesar di Tiongkok, Sany Heavy Industris Co. untuk membangun industri alat berat di Indonesia senilai USD 200 juta. “Kami akan bangun di Batam dengan target penyerapan tenaga kerja baru sebanyak 300 orang. Jadi, kami tidak hanya proses rekondisi saja, tetapi sudah meningkatkan pada proses pembuatan atau manufacturing melalui pabrik baru,” tuturnya.














