Ia memastikan akan mampu merambah pasar ASEAN, bahkan Indonesia dapat menjadi satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang memiliki pabrik alat berat dari investor Tiongkok. “Porsi penjualan nantinya untuk domestik mencapai 70%, sedangkan sisanya ekspor,” ujarnya.
Adapun sektor yang akan disasar adalah: 60%-70% sektor infrastruktur atau konstruksi, sisanya sektor tambang, kebun dan kehutanan. Menurut Benny, tahap awal, pabrik akan fokus memproduksi eskavator 20 ton untuk sektor konstruksi sebanyak 1.000 unit. Kebutuhan bahan baku sebagian akan diimpor dan sebagian dari dalam negeri.
Jimac Group merupakan agen sekaligus importir alat berat merek Sany sejak tiga tahun lalu, dan telah menjual 900 unit alat berat Sany meliputi machinery, truk, mixer, molen, dan eskavator. Dari sisi segmen, penjualan alat berat untuk infrastruktur menyumbang 90% dari total penjualan alat berat Sany. Sisanya baru disumbang penjualan alat berat untuk pertambangan, perkebunan dan kehutanan.














