Lebih jauh kata Alumnus FISIP UI ini, mereka harus keluar dari perangkap polarisasi ideologis dalam melihat dan menyikapi masalah bangsa. Tapi berani dan mau untuk masuk ke jantung masalah yang sebenarnya. Ingatlah akan pepatan: “Memahami masalah adalah setengah dari jawaban”. Jika salah memahami masalah, maka kita tak akan pernah sampai kepada jawaban. Yang terjadi justru kita menambah masalah baru,” paparnya.
Lebih lanjut Mahfuz mendukung agar TNI terus menjelaskan kepada semua unsur masyarkat akan hal ini. Ini tugas kenegaraan dan kebangsaan TNI yang diatur dan dijamin UU. Jangan tunggu bangsa ini larut dalam konflik, lalu TNI baru ambil peran sebagai pemadam kebakaran.
Selama ini, kata Mahfuz, ada upaya menggiring opini bahwa ancaman NKRI adalah kelompok-kelompok muslim yang aktif bergerak membela hak-hak agamanya tapi kemudian diberi stempel anti keberagaman, anti pancasila dan anti NKRI.
Sebaliknya pihak yang menjadi sumber awal kegaduhan justru ditampilkan sebagai simbol keberagaman, Pancasila dan NKRI. Dari penggiringan opini ini muncul dua masalah baru, menurut anggota DPR RI dari Fraksi PKS ini.
Pertama, terjadi gejala polarisasi ideologis antara masyarakat muslim dan non-muslim. Kedua, ada gejala konflik horizontal antar unsur masyarakat muslim, yaitu antara yang mengklaim pihak moderat dan yang dituding pihak radikal.














